Penyerang tak dikenal menembak mati penyiar radio Adrian Loterte di Filipina; ia menjadi jurnalis keenam yang tewas di negara mayoritas Katolik tersebut tahun ini.
Dua orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor melepaskan beberapa tembakan ke arah Loterte pada 12 Oktober di toko rotinya di Desa San Roque, Daraga, Provinsi Albay, Filipina tengah, menurut keterangan polisi.
Pembawa acara program Rabas Cun Rabas di RBN News Television sekaligus penyiar independen di radio DWIZ FM itu meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke rumah sakit setempat.
Menurut Kantor Polisi Regional 5, sebuah satuan tugas investigasi khusus telah dibentuk untuk menyelidiki dan mengungkap motif di balik kejahatan tersebut. Para pelaku penembakan hingga kini belum diidentifikasi, dilacak, maupun ditangkap.
Asosiasi Penyiar Filipina (KBP) cabang Albay mengeluarkan pernyataan yang mengecam pembunuhan tersebut, dengan menegaskan, “Kekerasan dan intimidasi tidak boleh ditoleransi, dan serangan terhadap praktisi serta tokoh media tidak boleh dibiarkan tanpa hukuman.”
Komunitas media sangat menyayangkan pembunuhan ini dan menyatakan bahwa negara terus gagal melindungi jurnalis dari ancaman serta aksi pembunuhan.
“Cukup dengan janji-janji, kami menuntut penangkapan segera. Kepada aparat penegak hukum – jalankan tugas Anda atau mundur saja. Temukan para penembak itu atau akui jika Anda tidak mampu,” ujar Ricky Bautista, jurnalis senior sekaligus pemimpin kelompok advokasi Media-Citizen Council, kepada UCA News.
“Kepada masyarakat dan rekan-rekan sejawat, tetaplah waspada; bantu kami menghentikan impunitas, hentikan pembunuhan jurnalis, dan hentikan upaya membungkam mereka yang menyuarakan kebenaran,” tambahnya.
Albay Press Club juga mengecam pembunuhan tersebut serta menuntut keadilan dan diakhirinya serangan terhadap jurnalis.
“Tidak seharusnya ada jurnalis atau praktisi media yang merasa terancam nyawanya saat menjalankan tugas memberikan informasi kepada publik. Serangan terhadap pekerja media bukan sekadar serangan terhadap individu, melainkan juga ancaman bagi kebebasan pers dan hak publik untuk mengetahui informasi,” demikian bunyi pernyataan mereka.
Pada 14 Juli, seorang teknisi siaran yang bekerja untuk stasiun radio yang dikelola Katolik di Kota Cotabato, Mindanao, juga tewas dibunuh oleh orang bersenjata tak dikenal saat sedang dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja dengan mengendarai sepeda motor.
Pada 19 April, jurnalis komunitas Nichole Ledesma tewas dalam operasi militer anti-pemberontakan di Filipina tengah.
Organisasi pemantau media global, Reporters Without Borders (RSF), menyatakan penyiar radio di kepulauan Filipina merupakan kelompok terbesar dari kalangan media yang menjadi sasaran kekerasan, mengingat peran vital mereka di berbagai pulau terpencil, dengan setidaknya 89 kematian tercatat dari total 147 jurnalis yang tewas saat menjalankan tugas sejak tahun 1986.
Menurut RSF, pembunuhan terhadap jurnalis terus terjadi, yang mencerminkan kegagalan pihak berwenang dalam melindungi para insan media.
“Sebagian besar jurnalis radio yang tewas saat bertugas sedang menyelidiki isu-isu yang sangat sensitif, termasuk korupsi serta penyalahgunaan wewenang di lingkungan kepolisian, militer, dan pemerintahan,” ungkap organisasi tersebut.
“Kejahatan terorganisir dan aktivitas ilegal, yang sangat erat kaitannya dengan penyalahgunaan kekuasaan dan kegagalan institusional, termasuk dalam topik paling berbahaya untuk diliput. Jurnalis yang meliput berita politik, khususnya di tingkat daerah, atau mengangkat isu hak asasi manusia dan lingkungan hidup, juga kerap menjadi sasaran kekerasan,” tambah RSF.
Joe Torres, kepala Satuan Tugas Kepresidenan untuk Keamanan Media (sebuah badan pemerintah), mendesak aparat penegak hukum “untuk melakukan penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan imparsial guna mengungkap kronologi serta motif di balik serangan tersebut, sekaligus meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.”
“Kekerasan terhadap insan media adalah hal yang tidak dapat diterima,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Sumber: Another journalist gunned down in the philippines
