Bagi Di Linh, 17, kehilangan anjingnya yang berumur tiga tahun pada tahun lalu terasa seperti kehilangan anggota keluarga.
Ia mengatakan anjing tersebut, yang diyakininya telah dicuri, sangat cerdas dan peka terhadap suka dan duka keluarganya.
Keluarganya di Provinsi Khanh Hoa menghabiskan waktu sebulan untuk mencarinya dan bahkan menawarkan imbalan sebesar 10 juta dong (380 dolar AS) bagi siapa pun yang memberikan informasi, namun anjing itu tidak pernah ditemukan.
“Saya menangis berhari-hari karena merindukannya,” ujar Linh.
Pengalamannya mencerminkan perubahan hubungan antara masyarakat Vietnam dan hewan. Anjing dan kucing kini semakin sering dipelihara sebagai teman dan diperlakukan layaknya anggota keluarga, meskipun di sisi lain hewan-hewan ini masih menjadi bagian dari perdagangan daging komersial.
Investigasi kepolisian baru-baru ini telah menyoroti besarnya skala perdagangan tersebut.
Maraknya pencurian hewan peliharaan
Pada 5 Oktober, polisi Kota Ho Chi Minh menangkap Luu Thanh Binh, 39, dan 11 orang lainnya karena diduga menjual kucing hasil curian. Para penyidik menyatakan bahwa para tersangka, yang beroperasi secara berkelompok, telah menjebak dan menjual sekitar 2.700 ekor kucing.
Pada Juni, polisi juga menyelamatkan sekitar 400 ekor kucing yang telah dikumpulkan untuk disembelih.
Pada April, polisi Hanoi menangkap lima pria karena mereka mencuri lebih dari 300 ekor kucing untuk diperdagangkan dagingnya.
Kucing-kucing tersebut dibeli dengan harga 100.000–110.000 dong (3,8–4,2 dolar AS) per kilogram dan dijual kembali melalui para pedagang dengan harga mencapai 230.000 dong per kilogram.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa pencurian hewan peliharaan bukan sekadar hilangnya hewan dari rumah pemiliknya. Hal ini juga berkaitan dengan rantai perdagangan informal, di mana hewan memiliki nilai ekonomi sejak saat dicuri hingga sampai ke tangan pedagang atau konsumen.
Mengonsumsi daging anjing dan kucing masih menjadi hal yang umum dan legal di Vietnam, meskipun peraturan mewajibkan pedagang untuk mendokumentasikan asal-usul hewan tersebut.
Praktik ini telah berkurang seiring dengan urbanisasi dan meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan, serta kecenderungan generasi muda Vietnam untuk memandang anjing dan kucing sebagai hewan pendamping.
Sebuah survei tahun 2026 oleh TGM Research menemukan bahwa 79 persen responden di kota-kota besar Vietnam memiliki hewan peliharaan. Di antara pemilik hewan peliharaan yang disurvei, 45 persen menganggap hewan mereka sebagai anggota keluarga.
Jumlah hewan peliharaan di Vietnam telah meningkat sekitar 5 persen setiap tahunnya sejak 2017.
Tahun 2023, negara tersebut memiliki lebih dari 12 juta anjing dan kucing peliharaan, angka yang diproyeksikan akan mencapai 16 juta tahun 2027.
Bagi Therese Truong Thi Ngoc, kehilangan anjingnya yang berusia tujuh tahun bulan lalu terasa sama menyakitkannya.
Ia menduga anjingnya mungkin diracun, karena hewan itu mati setelah menjalani perawatan selama tiga hari akibat masalah pencernaan di sebuah pusat perawatan hewan.
“Rasanya seperti kehilangan seorang sahabat,” ujar Ngoc lirih.
Ia menguburkan anjing itu di kebunnya dan terkadang berdiri di dekat makamnya untuk mengenang hewan tersebut.
Anjing itu telah menjadi bagian dari keluarganya selama bertahun-tahun. Ia menuruti perintah Ngoc, menjaga rumah di malam hari, dan tidur di dekat anggota keluarga.
Ngoc mengatakan bahwa merawat hewan peliharaan juga dapat membentuk cara pandang seseorang mengenai nilai kehidupan hewan.
Ayahnya dulu biasa mengonsumsi daging anjing, tambahnya, namun ia dan saudara-saudaranya tidak sanggup melakukannya karena mereka telah menyayangi anjing.
Manusia memiliki kewajiban untuk merawat hewan
Perubahan hubungan dengan hewan ini juga memunculkan pertanyaan di kalangan komunitas Katolik.
Pada 5 Oktober 2025, kaum Fransiskan di Kota Ho Chi Minh menyelenggarakan acara pemberkatan hewan untuk pertama kalinya di biara mereka. Lebih dari 50 orang membawa anjing, kucing, kura-kura, dan ikan ke upacara tersebut.
Pastor Peter Le Minh Hai OFM mengajak para peserta untuk merenungkan ciptaan Tuhan dengan penuh rasa syukur dan hormat.
“Hewan berbagi nasib kehidupan yang sama dengan manusia,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa hewan turut ambil bagian dalam kehidupan manusia serta dalam karya penciptaan dan penebusan Tuhan.
Praktik kaum Fransiskan ini tidak berarti bahwa ajaran Katolik menyamakan hewan begitu saja dengan manusia. Sebaliknya, hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai tanggung jawab manusia terhadap makhluk hidup lainnya.
Mengingat Laudato Si’ menekankan keterkaitan antarciptaan, ikatan emosional yang kian tumbuh terhadap hewan sebagai teman hidup memberikan dimensi yang lebih nyata bagi banyak umat Katolik perkotaan di Vietnam.
Pastor Bosco Nguyen Quang Hung CSsR, yang mengajar Kitab Suci untuk kursus persiapan pernikahan dan kelas katekese di Hue, mengatakan bahwa hewan telah diberkati oleh Tuhan sebagai bagian dari ciptaan bahkan sebelum manusia diciptakan.
Ia menambahkan bahwa Tuhan juga menyelamatkan hewan-hewan bersama keluarga Nuh saat peristiwa air bah besar.
“Manusia memiliki kewajiban untuk merawat hewan, sama seperti kewajiban mereka untuk melindungi hutan dan mengurangi polusi,” ujar Hung.
“Merawat hewan harus menjadi bagian dari kehidupan iman dan perwujudan nyata dari semangat Laudato Si’,” katanya.
Sebuah persoalan iman
Martha Truong Thi My, seorang katekis, mengatakan bahwa para peserta katekese dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Hue rutin mengunjungi peternakan setiap tahun; di sana, mereka membantu merawat berbagai jenis hewan, mulai dari burung hingga burung unta, domba, dan kuda.
“Tujuannya adalah membantu anak-anak mengenal alam melalui ciptaan Tuhan sekaligus mendorong mereka untuk melindungi hewan,” ujarnya.
Persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat Vietnam sebaiknya mengonsumsi daging anjing atau kucing. Melainkan bagaimana masyarakat memperlakukan hewan seiring pergeseran status hewan dari sekadar komoditas menjadi teman hidup, serta tanggung jawab apa yang muncul ketika hewan dipandang sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Bagi Ngoc, merawat hewan juga merupakan persoalan iman. “Memelihara hewan membantu orang untuk menghargai kehidupan hewan yang diciptakan oleh Tuhan,” tuturnya.
Sumber: For vietnamese catholics caring for animals is also a matter of faith
