Polisi di Nepal timur menggerebek sebuah perguruan tinggi yang dikelola umat Kristen dan menangkap 24 orang asal Korea Selatan menyusul adanya pengaduan mengenai dugaan keterlibatan mereka dalam kegiatan misionaris ilegal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tersebut.
Sumber-sumber mengonfirmasi bahwa warga Korea tersebut ditangkap saat mereka menghadiri pertemuan teologi di Nepal New Covenant College (NNCC), sebuah lembaga ekumenis, di distrik Morang yang berbatasan dengan India, pada 9 Oktober.
Menurut polisi, penangkapan dilakukan setelah adanya pengaduan terkait dugaan keterlibatan mereka dalam pengajaran, pelatihan, dan promosi keagamaan yang ilegal.
Kepala polisi distrik Morang, Kabit Katwal, mengatakan kepada wartawan bahwa warga negara Korea Selatan tersebut melanggar aturan visa turis dan kini ditahan di Departemen Imigrasi di Kathmandu, ibu kota negara, untuk penyelidikan lebih lanjut dan proses hukum.
Para pemimpin Kristen dan aktivis hak asasi manusia menilai tindakan polisi tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai “pelanggaran kebebasan beragama serta kasus terbaru dari sikap permusuhan terhadap minoritas Kristen di negara itu.”
Kepala sekolah NNCC sekaligus teolog, Sarad KC, menyebut penangkapan tersebut mengecewakan.
Ia mengatakan bahwa tamu-tamu asal Korea Selatan itu sedang mengunjungi perguruan tinggi tersebut untuk sebuah acara interaksi dengan jemaat Gereja setempat dan para mahasiswa ketika polisi menggerebek pertemuan itu.
Polisi mengatakan kepada mereka bahwa tindakan tersebut dilakukan berdasarkan “perintah dari atasan” dan para turis dilarang melakukan ceramah keagamaan, kegiatan misionaris, atau aktivitas terkait lainnya.
“Para pengunjung itu sedang berinteraksi dengan umat beriman di dalam sebuah sekolah Alkitab setempat, bukan sedang berkhotbah atau menyebarkan Injil di tempat umum dengan tujuan mengajak orang berpindah agama,” ujar KC kepada UCA News.
“Penangkapan ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya permusuhan yang ditargetkan oleh negara terhadap umat Kristen,” katanya.
NNCC didirikan tahun 2013 sebagai lembaga sosial di bawah naungan Ratna Baptist Foundation.
Lembaga ini telah menyelenggarakan program pendidikan keagamaan yang mencakup jenjang Sarjana Teologi, dan Magister Teologi, hingga studi tingkat doktoral.
Penangkapan warga Korea Selatan tersebut telah menimbulkan pertanyaan serius mengenai niat pemerintah dalam menjamin kebebasan beragama bagi kelompok minoritas, khususnya umat Kristen, ujar Dipesh Shrestha, wakil sekjen Federasi Kristen Nasional Nepal, sebuah organisasi payung yang mewakili umat Kristen di Nepal.
Menurutnya, federasi tersebut prihatin dengan meningkatnya permusuhan dan persekusi terhadap umat Kristen serta berencana mengangkat masalah ini baik di tingkat nasional maupun internasional guna menarik perhatian terhadap semakin ketatnya pengawasan negara terhadap umat Kristen.
“Kami berencana mengangkat masalah ini dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan forum internasional terkait lainnya,” ujarnya, seraya menambahkan negara “memperlakukan setiap orang Kristen, baik warga lokal maupun asing, sebagai penjahat karena mereka mengadakan pertemuan, atau membicarakan keyakinan mereka di antara para pengikut atau simpatisan.”
Akademisi, teolog, dan penulis Kristen, B.P. Khanal, menegaskan bahwa kunjungan misionaris asing ke Nepal dan pembicaraan mereka mengenai perjalanan iman atau ajaran agama di hadapan umat beriman dan simpatisan bukanlah pelanggaran yang mengharuskan penangkapan dan kemungkinan deportasi.
Khanal, yang mengelola Nepal Korea International College, mengatakan sangat disayangkan bahwa negara menargetkan sekolah pelatihan misi di Nepal.
“Penangkapan massal warga Korea Selatan dapat memberikan kesan bahwa Nepal adalah negara yang tidak toleran dan kemungkinan akan berdampak pada sektor pariwisata kami,” kata Khanal kepada UCA News.
Sumber: Nepal arrests 24 Korean christians for alleged missionary activities
