Paus: Umat Katolik hendaknya menolak ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum terpinggirkan

Paus: Umat Katolik hendaknya menolak  ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum terpinggirkan

 

Umat Katolik “menolak  penindasan terhadap kaum lemah dan miskin, ataupun struktur ketidakadilan yang melanggengkan kondisi ketergantungan dan ketidakadilan,” ujar Paus Leo XIV dalam audiensi umum mingguannya.

Dengan menyembah Kristus, “Sang Kebenaran  yang wafat bagi orang-orang yang tidak benar,” umat beriman dipanggil untuk mengupayakan keadilan, perdamaian, dan persaudaraan, kata Paus pada 7 Oktober di Lapangan Santo Petrus.

“Oleh karena itu, Gereja ‘tidak memiliki hasrat yang lebih besar selain demi kesejahteraan semua orang, ia dapat berkembang secara bebas di bawah pemerintahan apa pun yang mengakui hak-hak dasar pribadi dan keluarga, serta tuntutan akan kesejahteraan umum,’” ujarnya, mengutip dokumen Konsili Vatikan II “Gaudium et Spes,” seraya melanjutkan rangkaian katekesenya mengenai dokumen konsili tersebut.

Sebagaimana Kristus menjelma menjadi manusia untuk mendamaikan dunia dengan Allah, Gereja hadir di tengah dunia sebagai “tanda penjelmaan Allah, untuk menyatakan rencana-Nya menjadikan kita semua anak-anak-Nya dalam satu keluarga besar umat manusia,” kata Paus.

Menempuh perjalanan sejarah bersama berbagai bangsa dan budaya membantu Gereja memahami cakupan misinya dengan lebih jelas, ujarnya.

Misi tersebut bermula dengan membantu orang-orang “memperhatikan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan: Pertanyaan mengenai asal-usul dan tujuan akhir kita, serta pertanyaan mengenai makna cinta dan penderitaan.”

“Logika mengejar keuntungan dengan segala cara dan manipulasi informasi berisiko memberikan tekanan yang tidak semestinya agar orang mengikuti gaya hidup yang berpusat pada konsumsi barang-barang materi, padahal hati kita diciptakan untuk memandang ke atas,” katanya.

Misi Gereja juga mencakup kontribusi dalam membangun “kota duniawi,” ujarnya, meskipun metode dan tujuannya tidak bersifat politis semata. Sebaliknya, Gereja menjadi saksi  “iman dan kasih, disertai komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan persaudaraan.”

Untuk menghayati Injil sepenuhnya, umat Katolik harus bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus agar iman yang mereka akui tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka, kata Paus, melanjutkan katekesenya mengenai konstitusi “Gaudium et Spes.”

Kesenjangan antara iman yang diakui dan kehidupan sehari-hari, tulis konsili tersebut, “patut digolongkan sebagai salah satu kesalahan paling serius di zaman kita.”

Menghayati iman dalam masyarakat kontemporer juga menuntut para gembala, teolog, dan umat beriman untuk memilah unsur-unsur budaya modern yang layak dipertimbangkan, tanpa harus “mengencerkan” kekristenan demi membuatnya tampak lebih menarik, ujarnya.

“Menghayati iman membutuhkan sikap batin yang seimbang, bebas dari tren budaya, serta kemampuan untuk memandang dunia secara positif sembari tetap teguh dalam menjaga dan mewartakan pesan Injil secara utuh,” katanya.

Gereja tidak berada “di atas” atau “di samping” dunia, melainkan “menyatu di dalamnya,” lanjutnya, dan tujuan utamanya adalah agar Kerajaan Allah datang serta “keselamatan seluruh umat manusia dapat terwujud.”

“Gereja mengupayakan tujuan ini terutama melalui kesucian  pribadi dan kasih persaudaraan,” tambah Paus.

Sumber: Faithful cannot accept oppression injustice, pope says

 

Leave a Comment