Dr. Tadashi Hattori, penerima Ramon Magsaysay Award tahun 2022, mengatakan bahwa penghargaan ini ingin ia wariskan kepada para dokter muda bukan hanya keterampilan teknis, melainkan juga rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap pasien.
“Saya yakin, itulah panggilan hidup saya yang sesungguhnya,” ujar dokter spesialis mata asal Jepang berusia 62 tahun tersebut dalam sebuah diskusi panel di International House of Japan, Tokyo, pada 7 Oktober.
Hattori telah menghabiskan waktu lebih dari dua dekade untuk memberikan pengobatan mata gratis dan melakukan operasi bagi mereka yang kurang mampu.
Kiprahnya telah membantu lebih dari 20.000 orang yang menderita katarak dan gangguan mata lainnya di Vietnam, tempat ia juga melatih para dokter dan mendukung berbagai rumah sakit.
Penghargaan tersebut membuat kiprahnya lebih dikenal luas, kata Hattori, namun juga mendorongnya untuk memikirkan apa yang akan terjadi jika ia tidak dapat lagi melanjutkannya.
“Kini saya merasa memiliki tanggung jawab. Saya sedang memikirkan bagaimana cara mewariskan pekerjaan saya kepada generasi penerus,” tambahnya.
Sejauh ini, Hattori telah melatih sekitar 50 dokter Vietnam dan juga membantu para dokter di Myanmar, Indonesia, serta Laos.
Ia mendorong para dokter muda untuk segera meminta bantuan kepada dokter senior yang berpengalaman, alih-alih mencoba menangani segalanya seorang diri.
“Para dokter ini dapat membantu dalam menangani komplikasi serta memikul tanggung jawab terhadap pasien mereka,” ujarnya.
Melestarikan kisah para penerima penghargaan
Ramon Magsaysay Award Foundation berupaya melestarikan kisah para penerima penghargaan sekaligus menghubungkan orang-orang yang memiliki semangat perjuangan serupa.
“Sangatlah penting untuk menghargai warisan mereka agar kisah-kisah tersebut tidak terlupakan,” kata Susanna Afan, ketua yayasan tersebut.
Penghargaan yang didirikan tahun 1958 ini secara luas dianggap sebagai Hadiah Nobel versi Asia. Penghargaan tersebut telah diberikan kepada 359 individu dan organisasi, termasuk 28 penerima dari Jepang.
“Mereka mewakili sosok terbaik dari umat manusia; bukan sekadar yang terbaik di kalangan orang Asia, melainkan yang terbaik dari umat manusia,” ujar Afan kepada UCA News.
“Magsaysay Laureate Legacy Exchange in Japan” merupakan salah satu cara yayasan tersebut mempertemukan para penerima penghargaan, keluarga, serta organisasi mereka guna mendorong kolaborasi dan mengembangkan proyek-proyek baru, ungkapnya.
Kenichi Kubota, yang mewakili Japan Overseas Cooperation Volunteers (JOCV), organisasi penerima Penghargaan Magsaysay tahun 2016, juga menekankan pentingnya mewariskan kiprah tersebut kepada generasi mendatang.
Kubota, profesor emeritus di Universitas Kansai, mengatakan bahwa ia memandang penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas pencapaian JOCV, melainkan sebagai panggilan untuk berbuat lebih banyak lagi.
“Penghargaan itu menjadi titik balik, sebuah isyarat bahwa kami diharapkan untuk melakukan kiprah yang lebih besar di masa depan. Kesadaran itu memberi saya semangat dan tujuan baru,” ujarnya.
Program JOCV telah melibatkan sekitar 58.000 relawan; banyak di antaranya terus berkarya di Jepang maupun luar negeri, termasuk bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai tenaga ahli dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Saat ini, Kubota terlibat dalam bidang pendidikan di Bangladesh, termasuk pelatihan guru, dan berkeinginan memperluas kegiatan yang melibatkan para lulusan serta pihak lain dalam upaya revitalisasi komunitas lokal di Jepang.
“Membawa para mahasiswa ke negara-negara berkembang dan membiarkan mereka terlibat langsung dalam berbagai kegiatan serta berinteraksi dengan penduduk setempat bisa menjadi pengalaman yang sangat menginspirasi bagi mereka,” tuturnya.
Warisan yang terus hidup
Kiprah penerima penghargaan lainnya, mendiang dokter Tetsu Nakamura, juga terus berlanjut di Afghanistan, hampir tujuh tahun setelah wafatnya.
Yuichi Hara, seorang dokter sekaligus ketua Peshawar-kai, organisasi yang bermula sebagai proyek medis untuk merawat pasien umum dan penderita kusta di Peshawar (Pakistan) serta wilayah perbatasan di Afghanistan, mengatakan bahwa saat ini terdapat lima staf asal Jepang yang bekerja secara bergilir di Afghanistan bersama para pekerja setempat.
“Tahun 2003, saat menerima Penghargaan Ramon Magsaysay, Dr. Nakamura menggunakan uang hadiah tersebut untuk menerbitkan buku berbahasa Inggris mengenai penyakit Hansen (kusta),” ungkap Hara.
“Melalui penyebaran buku ini di Pakistan dan Afghanistan, kami terus melanjutkan upaya pemberantasan penyakit kusta di wilayah-wilayah tersebut.”
Ia memperkirakan bahwa sekitar 1,7 juta warga Afghanistan kini tinggal di kawasan yang dikembangkan atau dipulihkan berkat kiprah Nakamura, yang cakupan kegiatannya kemudian meluas dari layanan medis hingga pembangunan sumur, saluran irigasi, dan pengembangan sektor pertanian.
Menurut Hara, Nakamura memahami bahwa penanganan penyakit saja tidaklah cukup jika masyarakat kekurangan air dan pangan.
“Dr. Nakamura pernah berkata bahwa satu saluran irigasi lebih berharga daripada 200 klinik medis. Kami telah melihat rekaman saat beliau sendiri mengoperasikan alat berat, menyingkirkan tanah dan bebatuan, serta membangun saluran irigasi,” tambahnya.
Pekerjaan tersebut terus berlanjut meskipun terdapat kesulitan untuk menjangkau Afghanistan.
Hara mengatakan beberapa penerbangan pada rute yang sebelumnya digunakan oleh organisasi tersebut tidak lagi beroperasi, sementara pelemahan nilai tukar yen telah mengurangi nilai dana yang dihimpun untuk kegiatan mereka.
Pastor Cyril Veliath SJ, seorang profesor emeritus di Fakultas Studi Global Universitas Sophia, mewakili Yoshiaki Ishizawa, penerima penghargaan Magsaysay tahun 2017 sekaligus mantan rektor universitas tersebut, dalam acara di Tokyo itu.
Pastor Veliath bekerja sama erat dengan Ishizawa, termasuk saat melakukan perjalanan ke Kamboja, tempat mereka mengerjakan proyek-proyek yang melibatkan Angkor Wat dan situs-situs warisan budaya lainnya.
Ia mengatakan bahwa ia berharap Ishizawa dapat hadir dalam pertemuan di Tokyo tersebut.
Imam itu mengatakan karya para penerima penghargaan tersebut mencerminkan seruan Katolik untuk mengasihi sesama serta membantu orang-orang yang miskin dan menderita.
“Melalui kehidupan mereka, mereka menyampaikan kehendak Allah dan kehendak Yesus Kristus,” ujarnya kepada UCA News.
Sumber: Japanese magsaysay laureates continue serving across asia
