Sekelompok Hindu radikal diduga menyerang dan merusak sebuah gereja Katolik di Negara Bagian Benggala Barat, India timur, dengan tuduhan bahwa para misionaris telah mengonversi umat Hindu menjadi Kristen.
Sekitar 200 aktivis dari Vishwa Hindu Parishad (Dewan Hindu Dunia) tiba dengan kendaraan yang membawa batu bata dan tongkat bambu sekitar pukul 18.00 pada 9 Oktober dan mencoba memaksa masuk ke Gereja Santo Louis di desa Jalalkhai, distrik Nadia; demikian disampaikan Pastor Paroki Jithin Muthukattil kepada UCA News pada 11 Oktober.
“Namun, sekelompok umat paroki berusaha mengunci gerbang masuk dan menghalanginya dengan bambu untuk mencegah massa masuk,” kata Pastor Muthukattil, anggota Kongregasi Vincentian lokal dari Gereja Syro-Malabar, sebuah Gereja Katolik Timur.
“Akan tetapi, para penyerang melemparkan batu serta batu bata dan memaksa masuk ke area gereja, lalu merusak gerbang darurat serta penutup kaca patung-patung, termasuk patung Yesus Kristus,” tambahnya.
Di tengah kekacauan yang terjadi, lebih dari 10 pria dan wanita yang melawan para penyerang dipukuli sebelum polisi tiba sekitar pukul 19.00. Seorang umat paroki sempat menghubungi Hakim Distrik Nadia, Shrikant Pandit, untuk meminta bantuan, ujar Pastor Muthukattil.
“Polisi berhasil mengendalikan situasi yang penuh kekerasan dan ketegangan itu, namun tidak menangkap para pelakunya,” kata Samir Lahiri, sekretaris Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Krishnagar.
Pastor Muthukattil mengatakan sekitar 1.900 umat Kristen dari suku Santhal yang berasal dari wilayah sekitar telah berkumpul untuk mengikuti pertemuan doa tahunan selama empat hari, yang dijadwalkan dimulai pada 8 Oktober di Pusat Retret Cinta Ilahi yang berada di lingkungan paroki tersebut.
“Namun, akibat serangan dan ancaman tersebut, kami mengakhirinya pada 10 Oktober setelah Misa Kudus dan sarapan,” ujarnya, seraya menambahkan acara tersebut tidak pernah menghadapi permusuhan selama 12 tahun sebelumnya.
“Ini adalah bentuk kekerasan terburuk yang pernah kami alami di keuskupan kami,” kata Uskup Krishnanagar Mgr. Nirmol Vincent Gomes SDB, yang wilayah yurisdiksinya mencakup lokasi kejadian, kepada UCA News pada 11 Oktober.
Uskup Salesian itu mengatakan para imam diosesan dan biarawati telah mengajukan laporan polisi pada 9 Oktober, mendesak pihak berwenang untuk menangkap pihak yang bertanggung jawab serta menjamin keselamatan umat Katolik yang “terguncang, ketakutan, dan hidup dalam kecemasan.”
“Laporan telah diterima dan penyelidikan sedang berlangsung,” ujar seorang pejabat senior kepolisian di direktorat kepolisian Krishnanagar.
Pastor Muthukattil menyebutkan nama-nama yang diduga sebagai pemimpin serangan tersebut – Indrajit Sarkar, Suphol Biswas, Raju Thakur, dan Souman Batto.
Imam itu menyatakan bahwa mereka berafiliasi dengan Vishwa Hindu Parishad dan gerakan Gomata Samrakshan, sebuah kelompok pelindung sapi.
“Para penyerang meneriakkan slogan-slogan yang menentang umat Kristen dan Gereja, merusak properti, serta menyerang orang-orang yang berusaha melindungi komplek gereja,” kata imam tersebut.
Arindam Kar, sekretaris Vishwa Hindu Parishad di Kolkata Utara, menuding bahwa praktik konversi agama sedang terjadi di beberapa wilayah negara bagian tersebut.
“Hal ini tidak hanya terjadi di Krishnanagar… praktik konversi agama dengan iming-iming uang dan mukjizat sedang dilakukan. Praktik semacam itu umum terjadi di Nadia, Howrah, serta wilayah North dan South 24 Parganas,” demikian kutipan pernyataannya yang dimuat oleh Indian Express pada 10 Oktober.
Kar menuding bahwa kelompok-kelompok semacam itu sebelumnya menikmati “perlindungan dari partai yang pernah berkuasa [Partai Kongress].”
“Sekarang perlindungan itu tidak ada lagi, sehingga masyarakat memprotes inisiatif-inisiatif semacam itu,” tambahnya.
Pastor Dominic Gomes, Kanselir Keuskupan Agung Kalkata, menyatakan pertemuan doa tersebut tidak diselenggarakan untuk mengonversi orang ke agama Kristen.
Ia mengatakan segala tuduhan mengenai konversi agama, jika diperiksa secara adil dan objektif berdasarkan fakta serta bukti, akan terbukti tidak benar.
“Pertemuan doa ini merupakan momen untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk duniawi guna berdoa secara mendalam, dengan tujuan memberikan dukungan spiritual dan pembaruan iman,” ujarnya.
Herod Mullick, sekretaris pendiri Dewan Kristen Bengal, mengatakan insiden semacam itu sering terjadi di berbagai wilayah negara bagian tersebut.
“Kami mendesak pemerintah dan aparat setempat untuk segera melakukan penyelidikan yang imparsial, menjaga ketertiban umum, serta dengan cepat menangkap dan memproses hukum semua pelaku yang bertanggung jawab atas tindakan ini,” tegasnya.
Sumber: Hindu hardliners attack catholic church in india
