Dokumen Vatikan tentang Bunda Maria: Apa maknanya bagi devosi populer di Asia?

Dokumen Vatikan tentang Bunda Maria: Apa maknanya bagi devosi populer di Asia?

Oleh Daniel Cerqueira Afonso

Dokumen Mater Populi Fidelis (Bunda Umat Beriman), yang menyebut gelar “Penebus Bersama” (Co-redemptrix) sebagai sesuatu yang “selalu tidak tepat”, justru merupakan salah satu teks paling hangat yang pernah ditulis Roma mengenai devosi populer kepada Bunda Maria dalam beberapa tahun terakhir.

Di Asia, tempat devosi kepada Bunda Maria menyuburkan iman jutaan orang, termasuk banyak umat Katolik yang miskin dan terpinggirkan, kehangatan devosi tersebut jauh lebih bermakna daripada berita utama media yang sempat muncul mengenainya.

Dikasteri Ajaran Iman Vatikan menerbitkan catatan doktrinalnya pada 4 November 2025, setelah disetujui oleh Paus Leo XIV pada 7 Oktober. Dokumen ini menjadi sorotan karena memuat dua keputusan.

Disebutkan bahwa “selalu tidak tepat untuk menggunakan gelar ‘Penebus Bersama’ guna mendefinisikan kerja sama Bunda Maria” (paragraf 22). Dokumen tersebut menyatakan, “Ketika suatu ungkapan memerlukan banyak penjelasan berulang agar maknanya tidak melenceng dari arti yang sebenarnya, ungkapan itu tidak lagi mendukung iman Umat Allah dan justru menjadi tidak bermanfaat.”

Dokumen tersebut kemudian menetapkan batasan yang jelas terkait gelar “Pengantara Segala Rahmat” (Mediatrix of All Graces), (paragraf 67 dan 68).

Dokumen yang ditandatangani oleh Kardinal Víctor Manuel Fernández ini berangkat dari sudut pandang yang berbeda. Dinyatakan bahwa kesalehan umat beriman “tidak dibahas di sini dengan maksud untuk mengoreksinya, melainkan, terutama untuk menghargai, mengagumi, serta mendorongnya.”

Dokumen ini tidak ditujukan kepada umat Katolik pada umumnya yang berdoa rosario di rumah, dalam kelompok paroki, atau di tempat-tempat ziarah. Dokumen  ini menyoroti “kelompok-kelompok refleksi, publikasi, devosi-devosi baru kepada Bunda Maria, bahkan permohonan penetapan dogma Maria” yang “mengekspresikan diri secara intens melalui media sosial, yang sering kali menimbulkan kebingungan di kalangan umat beriman pada umumnya.”

Perbedaan tersebut merupakan kunci bagi Asia.

Dokumen  tersebut menyertakan sosok Maria dalam rupa orang Korea sebagai salah satu contoh inkulturasi. Dokumen tersebut membahas tentang “berbagai wajah Bunda Maria”, seperti wajah orang Korea, Meksiko, Kongo, Italia, dan banyak lagi lainnya, sebagai “cara menginkulturasikan Injil, yang mencerminkan ‘kelembutan kebapaan Allah’ di setiap tempat di muka bumi”, (paragraf 79).

Asia memiliki banyak wajah Bunda Maria. Di Vailankanni, Tamil Nadu, sosok “Bunda Maria Pemberi Kesehatan” menarik jutaan peziarah untuk hadir dalam perayaan selama 11 hari yang berakhir pada 8 September.

Di Vietnam bagian tengah, tepatnya di La Vang, tradisi mengenai seorang ibu yang menghibur umat Katolik yang dipersekusi tahun 1798 melandasi sebuah tempat ziarah nasional, yang kemudian ditingkatkan statusnya oleh Paus Yohanes XXIII menjadi basilika kecil tahun 1961.

Di Filipina, Katedral Antipolo, tempat bernaungnya ikon Bunda Maria, Penolong Umat Beriman dan Pelindung Perjalanan yang Aman, “ditetapkan secara resmi tahun 2024 sebagai tempat ziarah internasional pertama di Filipina” (sebagaimana dilaporkan oleh Vatican News).

Di Sheshan, dekat Shanghai, Paus Benediktus XVI tahun 2007 meminta umat Katolik untuk menjadikan tanggal 24 Mei, hari peringatan Santa Maria, Penolong Umat Kristiani, sebagai hari doa bagi Gereja di China.

Tak satu pun dari tempat-tempat ziarah ini bergantung pada gelar-gelar yang masih diperdebatkan. Devosi di tempat-tempat tersebut berpusat pada nama dan ikon yang selaras dengan penekanan catatan itu mengenai Maria sebagai ibu dan penolong yang menuntun umat beriman kepada Kristus.

Dokumen  tersebut ditutup dengan kutipan dari para uskup Amerika Latin di Aparecida mengenai ziarah: “Keputusan untuk berangkat menuju tempat ziarah sudah merupakan suatu pengakuan iman.” Para peziarah dari Asia telah menyatakan pengakuan iman tersebut selama berabad-abad.

Di mana dokumen  tersebut menyentuh Asia

Titik-titik krusial mencakup dugaan penampakan yang diperdebatkan atau dinilai secara negatif, terutama dalam kasus di mana gelar-gelar tertentu yang diperdebatkan  menjadi sorotan.

Contoh yang paling jelas adalah Lipa, di Filipina. Tahun 1948, seorang calon biarawati Karmelit melaporkan adanya penampakan Santa Perawan Maria, yang kemudian dihormati dengan gelar “Pengantara Segala Rahmat”.

Tahun 1951, Kantor Takhta Suci memutuskan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut tidak memiliki ciri supranatural; sebuah keputusan yang kemudian dikukuhkan oleh Paus Pius XII. Tahun 2015, Uskup Agung Lipa yang menjabat saat itu menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut layak dipercaya, namun pada 11 Desember tahun yang sama, Kongregasi Ajaran Iman Vatikan menyatakan dekret tersebut “batal demi hukum” dan menegaskan kembali sifat definitif dari keputusan tahun 1951.

Tahun 2024, menurut laporan pers, keuskupan agung menerbitkan dekret tahun 1951 tersebut dan menghentikan perayaan terkait peristiwa penampakan yang dinyatakan pada 12 September. Dokumen tersebut “menarik garis pemisah antara devosi dan gelar yang diperdebatkan.” (Sumber: Dekret CDF Prot. 226/1949 tertanggal 11 Desember 2015, yang diterbitkan oleh CBCP News.)

Solusi pastoral tersebut mencerminkan suatu pembedaan yang dimuat dalam catatan itu. Dokumen tersebut tidak melarang penggunaan kata “rahmat” (dalam bentuk jamak). Dikatakan bahwa bentuk jamak tersebut, “bila dipahami dalam kaitannya dengan pertolongan Bunda  Maria pada berbagai momen dalam hidup kita, dapat memiliki makna yang dapat diterima” (paragraf 68). Namun, dokumen itu menolak gagasan yang menggambarkan Maria sebagai sosok yang membagikan “anugerah atau energi rohani terlepas dari hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus.”

Contoh kedua memperlihatkan para uskup di Asia mengambil sikap pastoral serupa terkait dugaan penampakan.

Pada 13 Juli tahun ini, Konferensi Waligereja Filipina meminta umat Katolik Filipina untuk tidak mengadakan atau mengikuti ziarah ke Naju, Korea Selatan, setelah Keuskupan Agung Gwangju, yang berada dalam persekutuan dengan dikasteri terkait, menegaskan kembali penilaian negatifnya terhadap dugaan penampakan di tempat tersebut. Para uskup mengutip perkataan Maria di Kana: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.”

Mengapa istilah tersebut penting dalam misi di Asia

Ada yang berpendapat bahwa perdebatan mengenai gelar “Co-redemptrix” (Penebus Bersama) hanyalah perselisihan di kalangan teolog Eropa. Namun di Asia, perdebatan ini memiliki dimensi misionaris.

Di banyak konteks Asia, umat Katolik hidup sebagai kelompok minoritas di tengah-tengah penganut agama Islam, Hindu, Buddha, serta pengikut tradisi keagamaan di China dan Jepang, dan lain-lain. Beberapa dari kelompok masyarakat ini, terutama umat Muslim, juga menghormati Bunda Maria. Jika penggunaan istilah terkait Maria menyiratkan seolah-olah Maria adalah penebus yang setara dengan Kristus atau penyalur rahmat yang terpisah dari Kristus, hal tersebut dapat memperkuat kesalahpahaman mengenai satu-satunya Juruselamat.

Penalaran dalam catatan tersebut berlaku secara langsung: “Apabila suatu ungkapan memerlukan banyak penjelasan berulang agar tidak menyimpang dari arti yang sebenarnya, ungkapan tersebut tidak mendukung iman Umat Allah dan justru menjadi tidak bermanfaat” (paragraf 22).

Bunda Maria sama sekali tidak dirugikan oleh istilah ini. Judul penutup dalam dokumen tersebut, “Bunda Allah Umat Beriman,” sangatlah tepat untuk devosi populer di Asia. Ia adalah Bunda yang “hadir di tengah umat-Nya dengan perhatian yang lembut dan penuh kasih” (paragraf 76).

Tiga langkah pastoral

Bagi para rektor tempat ziarah, katekis, dan pewarta di Asia, dokumen tersebut mengarahkan pada tiga langkah pastoral.

Pertama, wartakanlah Maria dengan sebutan-sebutan yang sudah digunakan oleh umat. Gelar seperti Bunda, Penolong Umat Kristiani, Bunda Pemberi Kesehatan, dan Bunda Rosario, tidak perlu dikoreksi.

Kedua, jelaskan perbedaan antara wahyu publik dan wahyu pribadi. Hal ini penting bagi para peziarah yang mengunjungi tempat-tempat seperti Akita di Jepang; di sana, peristiwa yang terjadi diakui oleh uskup setempat tahun 1984, sebuah keputusan tingkat lokal, bukan keputusan dari Takhta Suci.

Pedoman dikasteri tersebut  tahun 2024  mengenai dugaan fenomena supranatural, yang dirujuk dalam dokumen ini, memberikan kosakata yang jelas bagi para gembala. Sebagaimana diingatkan dalam catatan tersebut, bahkan ketika dikasteri memberikan nihil obstat, fenomena semacam itu “tidak menjadi objek iman” (paragraf 75).

Ketiga, pantau ruang digital. Kekhawatiran yang diungkapkan dalam catatan tersebut mengenai kelompok-kelompok yang mempromosikan dogma-dogma baru “melalui media sosial” sangat relevan dengan situasi di Asia, di mana banyak umat Katolik kini menerima konten devosional melalui ponsel mereka.

Dokumen  ini diakhiri dengan sebuah doa singkat: “Bunda Allah Umat Beriman, doakanlah kami.” Dalam berbagai bahasa – Tamil, Vietnam, Tagalog, Korea, maupun Mandarin – doa ini sudah menjadi bagian dari kehidupan di berbagai tempat ziarah Maria di Asia.

*Daniel Cerqueira Afonso adalah seorang Mariolog, Doktor dalam Teologi Suci dari Fakultas Teologi Marianum Roma, Pendiri dan Presiden Institut Locus Mariologicus. Ia ahli dalam Teologi Maria, Penampakan Maria.

Sumber: Vaticans marian document what it means for popular devotion in Asia

 

Leave a Comment