Para uskup tutup pertemuan di Vatikan dengan komitmen mendengarkan dan menjangkau kaum muda

Para uskup tutup  pertemuan di Vatikan dengan komitmen mendengarkan dan menjangkau kaum muda

 

Para uskup akan kembali ke keuskupan-keuskupan mereka masing-masing setelah pertemuan selama sepekan mengenai pernikahan dan keluarga, dengan membawa komitmen baru untuk mendengarkan realitas keluarga modern, serta menjangkau kaum muda yang merasa ragu untuk menikah.

“Di dunia yang semakin dibentuk oleh robot, anonimitas, dan isolasi, keluarga memiliki peran profetik, tidak hanya dalam masyarakat, tetapi juga bagi masa depan umat manusia,” ujar Uskup Agung Malta Mgr. Charles Scicluna pada penutupan pertemuan di Vatikan.

Dalam sebuah pengarahan pada 14 Oktober yang menandai berakhirnya pertemuan sepekan tersebut, yang diselenggarakan oleh Paus Leo XIV untuk membahas langkah-langkah yang telah diambil di Gereja-gereja lokal dalam menerapkan dokumen Paus Fransiskus tahun 2016, “Amoris Laetitia,” tentang kasih dalam keluarga, Uskup Agung Scicluna dan para peserta lainnya menyatakan dokumen tersebut tetap relevan hingga saat ini, sama seperti satu dekade lalu.

Dokumen ini menantang Gereja untuk mendengarkan keluarga-keluarga sebelum memberikan penilaian, serta menjumpai setiap orang dalam situasi kehidupan mereka saat ini.

Pertemuan yang berlangsung pada 7–14 Oktober ini menghadirkan 115 ketua konferensi waligereja, para pakar pelayanan keluarga, pimpinan Gereja Katolik Timur, serta kaum awam untuk merenungkan pendekatan pastoral Gereja terhadap pernikahan dan kehidupan keluarga, sekaligus langkah-langkah yang perlu diambil guna mewartakan Injil kepada keluarga-keluarga di masa kini.

Laporan sintesis dari pertemuan tersebut tidak akan dirilis sebelum ditinjau oleh Paus Leo XIV. Oleh karena itu, tanggal publikasinya belum dapat dipastikan, mengingat Paus saat ini masih dalam proses pemulihan setelah menjalani operasi pada 13 Oktober untuk mengangkat tumor kanker dari paru-parunya.

Para penyelenggara pertemuan tersebut berbicara dalam sebuah pengarahan pada 14 Oktober, menggambarkan dunia di mana tantangan yang dihadapi keluarga telah berubah secara drastis selama satu dekade terakhir, mulai dari ketidakpastian ekonomi dan menurunnya keyakinan akan kelanggengan pernikahan, hingga migrasi, kemiskinan, perceraian, dan perang.

Namun, ketimbang mencari solusi yang berlaku universal, “Amoris Laetitia” mendorong para pemimpin Gereja dan paroki setempat untuk memahami pengalaman hidup keluarga-keluarga serta mengembangkan tanggapan pastoral yang disesuaikan dengan situasi unik mereka masing-masing.

Di atas segalanya, diskusi-diskusi tersebut mencerminkan keinginan untuk tetap setia pada Injil tanpa memandang belas kasih dan kebenaran sebagai prinsip yang saling bertentangan, ujar Pastor Giacomo Costa, SJ, seorang konsultan untuk Sekretariat Umum Sinode Para Uskup, dalam pengarahan di kantor pers Vatikan.

Uskup Agung Paul S. Coakley, ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat, mengatakan meskipun “Amoris Laetitia” sering dikaitkan dengan kontroversi seputar penafsirannya, pesan yang lebih luas dari dokumen tersebut telah mengubah cara umat Katolik mendiskusikan pernikahan dan kehidupan keluarga.

“Kebanyakan umat Katolik yang mengetahui tentang ‘Amoris Laetitia’ lebih mengenal dokumen ini karena catatan kaki atau kontroversi yang menyertainya,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Catholic News Service pada 14 Oktober. “Padahal, dokumen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.”

Ia menambahkan, penekanan pada sikap mendengarkan dan mendampingi telah menjadi bagian dari kosakata pastoral sehari-hari di dalam Gereja.

Uskup Daniel E. Flores, wakil ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat, mengatakan kepada CNS pada 14 Oktober bahwa Gereja harus memberikan perhatian khusus pada alasan mengapa kaum muda semakin ragu untuk menikah, baik karena tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, maupun perasaan belum siap untuk berkomitmen seumur hidup.

Menurut Uskup Flores, tantangan bagi Gereja-gereja lokal adalah menumbuhkan kembali keyakinan akan kemungkinan terciptanya kehidupan perkawinan yang bahagia, alih-alih berasumsi bahwa tanggapan pastoral yang sama akan efektif di setiap belahan dunia.

Ia juga menekankan pentingnya mendampingi pasangan yang berjauhan setelah hari pernikahan mereka, seraya mencatat bahwa program persiapan pernikahan, sekomprehensif apa pun, tidak akan mampu mempersiapkan pasangan untuk menghadapi setiap tantangan yang mungkin mereka temui di kemudian hari.

Pasangan yang lebih senior, termasuk mereka yang pernah mengalami kesulitan dalam pernikahan mereka sendiri, dapat berperan penting dalam mendukung keluarga-keluarga yang lebih muda serta membantu mereka menghadapi tuntutan kehidupan pernikahan yang terus berkembang.

Uskup Agung Coakley menyuarakan keprihatinan serupa, seraya mencatat bahwa para imam diharapkan untuk terus melanjutkan pembinaan diri setelah penahbisan, sementara kursus persiapan pernikahan justru sering kali berakhir tepat pada saat hari pernikahan.

“Realitas senantiasa berubah, dan Gereja perlu terus mendampingi keluarga-keluarga muda maupun keluarga-keluarga yang lebih matang,” ujarnya kepada CNS.

Selama pertemuan yang berlangsung selama sepekan itu, para uskup juga membahas peran pengadilan gerejawi (tribunal perkawinan), akses terhadap prosedur pernyataan pembatalan perkawinan, serta perlunya membentuk hati nurani pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam mendampingi keluarga.

Pertemuan tersebut juga menekankan hubungan antara “Amoris Laetitia” dan sinodalitas, khususnya mengenai perlunya keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan dan pengambilan keputusan di dalam Gereja, alih-alih hanya menjadi penerima pasif bimbingan pastoral.

Dalam Misa penutupan pertemuan tersebut, Kardinal Luis Antonio Tagle membacakan homili yang disusun oleh Paus, yang mengajak umat Katolik untuk mengakui keluarga sebagai sekolah kasih yang pertama, serta mendukung pasangan suami-istri dan keluarga sepanjang hidup mereka.

Paus mendorong umat beriman untuk membangun Gereja sebagai “sebuah keluarga dari keluarga-keluarga,” di mana pasangan muda mendapatkan dorongan, para orang tua memperoleh dukungan, kaum lansia dihargai karena kebijaksanaan mereka, dan mereka yang sedang mengalami krisis disambut dengan kasih sayang, bukan dengan penghakiman.

“Dengan demikian, kasih yang dijalani di dalam keluarga, dengan segala pergumulan, kesalahan, dan kegagalannya, namun juga dengan keajaiban kehidupan sehari-hari yang tak terduga, menjadi sekolah kasih sayang manusiawi yang pertama; sebuah pengalaman belajar yang berharga dan tak tergantikan tentang ‘sukacita kasih’,” demikian kutipan homili Paus yang dibacakan oleh Kardinal Tagle.

“Oleh karena itu, kita patut mengakui dan mendukung upaya banyak keluarga yang menghayati panggilan serta misi mereka dari hari ke hari, tanpa gosip, namun terkadang dengan kesetiaan yang heroik.”

Meski demikian, bagi sebagian peserta, pertemuan tersebut belum menjawab tuntas semua pertanyaan mengenai bagaimana Gereja harus merespons realitas kehidupan keluarga yang terus berubah.

Pastor Stanislaus Chu Ilo dari Chicago menyatakan bahwa diskusi-diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa Gereja mampu mengakui adanya pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, sembari terus melangkah maju bersama.

“Kita bisa hidup di tengah kompleksitas,” ujar imam sekaligus teolog asal Nigeria tersebut dalam sesi pengarahan pada 14 Oktober.

Pertemuan tersebut, ujarnya, menawarkan harapan bahwa dengan lebih mencermati kerapuhan kehidupan keluarga, Gereja dapat lebih mengenali kehadiran Tuhan di tengah ketidakpastian yang membentuk masa depannya.

Sumber: Bishops end meeting on family pledging to listen and reach the young

 

Leave a Comment